Seseorang yang mengalami kegagalan beribu-ribu kali adalah seseorang yang akan merasakan keberhasilan

hidup

Terkadang hidup memberi 100 alasan untuk menangis. Tetapi allah memberikan 1000 alasan untuk tersenyum.

Kamis, 16 Oktober 2014

TUGAS ILMU BUDAYA DASAR



TEORI KEBUDAYAAN



Ilmu Pengetahuan Budaya, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan Humaniora
Konsep kebudayaan mempunyai berbagai definisi bergantung dari aliran teoretis apa yang dianut. Ada konsep kebudayaan yang bersifat materialistis yang mendefinisikan kebudayaan sebagai sistem yang merupakan hasil adaptasi pada lingkungan alam atau suatu sistem yang berfungsi untuk mempertahankan kehidupan masyarakat. Ada pula konsep kebudayaan yang bersifat idealistis yang memandang semua fenomena eksternal sebagai manifestasi suatu sistem internal. Kebudayaan adalah suatu fenomena sosial, dan tidak dapat dilepaskan dari perilaku dan tindakan warga masyarakat yang mendukung atau menghayatinya.

Di dalam alam pemikiran yang sama, kebudayaan berarti “pengendalian alam oleh ilmu pengetahuan dan kesenian” (Albion Small, 1905: 59-60 dikutip oleh Kroeber & Kluckhohn, 1963: 21). Jadi persepsi menurut pengertian peradaban mengikuti dimensi hubungan sosial, sedangkan persepsi menurut pengertian kebudayaan mengikuti dimensi individual, artinya penguasaan ilmu pengetahuan dan kesenian adalah penyempurnaan budi manusia.

Manusia sebagai Sasaran Observasi Konkret
Segi pemerolehan data untuk dikenakan analisis, maka dapat dibedakan lima jenis data sebagai berikut: (1) artifak atau artefak, (2) perilaku kinetis, (3) perilaku verbal, (4) tuturan, dan (5) teks. Dilihat dari perspektif lain, teori kebudayaan adalah usaha konseptual untuk memahami bagaimana manusia menggunakan kebudayaan untuk melangsungkan kehidupannya melalui penggarapan lingkungan alam, dan memelihara keseimbangannya dengan dunia supernatural. Menurut pemahaman ini tulisan atau teks bersifat sekunder. Perilaku verbal maupun nonverbal merupakan data primer, dan teori-teori yang dikembangkan sangat dipengaruhi oleh kondisi dan karakteristik data itu, dan dianggap berlaku pula bagi data tekstual.

Keragaman Teori
Keragaman teori kebudayaan dapat ditinjau dari dua perspektif, yaitu (1) perspektif perkembangan sejarah, dan (2) perspektif konseptual. Pada perspektif pertama keragaman itu muncul karena aspek-aspek tertentu dari kebudayaan dianggap belum cukup memperoleh elaborasi, sedangkan pada perspektif kedua keragaman muncul karena pemecahan permasalahan konseptual terjadi menurut pandangan yang berbeda-beda.
Berkaitan dengan keterikatan pada hukum alam, maka evolusi budaya dianggap berlangsung atas dasar prinsip rasionalitas dan kegunaan (utilitarianism). Perbedaan kebudayaan mencerminkan perbedaan tingkat perkembangan yang menurut paham ini terbagi atas tiga tahap evolusi, yaitu tahap keberadaan manusia dalam keadaan liar (savage stage), kemudian tahap keberadaan manusia di dalam barbarisme, dan sebagai tahap tertinggi adalah tahap peradaban (civilization).
Aspek-aspek sejumlah teori setelah Boas yang bersumber pada konsep kebudayaan adalah bahwa (a) kebudayaan itu bersumber pada emosi, dan bukan pada rasio; (b) kebudayaan itu bersifat sui generis, artinya tumbuh dan berkembang atas dasar prinsip-prinsipnya sendiri, dan mempunyai kemampuan mengadakan modifikasi sehingga unsur-unsur beragam yang merupakan hasil difusi terintegrasi menurut suatu gagasan atau tema pokok; (c) tiap-tiap kebudayaan itu adalah hasil perkembangan sejarah yang kompleks sehingga masing-masing bersifat unik; (d) kebudayaan jika dilihat secara subjektif memperlihatkan dinamika dan kreativitas yang merupakan kekuatan yang dapat mengintegrasikan unsur-unsur yang berbeda sebagai hasil proses difusi ke dalam sistem budaya yang ada.
Dua teori yang masih berkaitan dengan gagasan Boas adalah yang dikembangkan oleh Ruth Benedict (1887-1948) dan A. L. Kroeber (1876-1960). Ruth Benedict termasyur dengan konsep ethos atau konfigurasi budaya dan Kroeber membedakan dua aspek dalam kebudayaan, yaitu apa yang disebutnya dengan kebudayaan nilai (value culture) dan kebudayaan realitas (reality culture).

Keragaman Teori Idealistis
Teori-teori idealistis disebut Keesing (dalam Casson, 1981: 42-65) teori-teori yang menganggap kebudayaan sebagai (1) sistem kognitif dengan tokoh utamanya Ward Goodenough, (2) sebagai sistem struktural dengan Lȇvi-Strauss sebagai tokoh utamanya, (3) sebagai sistem simbolis dengan dua tokoh utama, yaitu Clifford Geerts dan David Schneider, dan akhirnya (4) suatu teori yang dikembangkan oleh Keesing sendiri yang menganggap kebudayaan sebagai sistem sosial-budaya.

Prinsip-Prinsip Dasar
Prinsip-prinsip dasar yang dijadikan titik tolak untuk memahami kebudayaan -- membuat teori kebudayaan -- adalah yang berasal dari Saussure, Peirce, dan teori interpretasi teks. Saussure mencanangkan prinsip penting sebagai berikut: (1) tanda (dalam bahasa) terdiri atas yang menandai (signifiant, signifier, penanda), dan yang ditandai (signifiȇ, signified, petanda), (2) tanda tidak mempunyai nomenclature dan (3) gagasan langue dan parole.
Gagasan kebudayaan menurut Lȇvi-Strauss malahan mencanangkan suatu “super-langue” yang mencakupi seluruh umat manusia. Gagasan kebudayaan menurut Peirce mencanangkan istilah semiotik dan hermeneutik. Interpretasi teks bertumpu pada dua prinsip penting, yaitu (1) apa yang disebut sebagai “lingkaran hermeneutik”, dan (2) apakah kita bertolak dari pendirian bahwa teks itu mengandung makna tunggal (textual monosemy) atau mengandung makna majemuk (textual polysemy).

Beberapa Perkembangan Mutakhir
Aliran pascastrukturalisme dan pascamodernisme merupakan aliran yang muncul sebagai pencerminan disilusi dan ketidakpuasan dengan rasionalitas, dan pranata-pranata yang bersumber pada optimisme kemampuan rasionalitas itu untuk membawa umat manusia ke kesejahtereaan dan kebahagiaan. Inti pokok dari paham itu adalah bahwa realitas sebagai sesuatu yang konkret di luar subjek tidak mempunyai wujud mandiri, tetapi terbentuk oleh wacana (discourse) yang berlaku dan digunakan dalam masyarakat.


SINTESIS

Pemahamanan akan teori kebudayaan dapat terbentuk dari bagaimana suatu konsep itu bermula. Mendefinisikan kebudayaan merupakan masalah klasifikasi makna dari berbagai persepsi para ahli mengenai struktur, dinamika, dan keberagaman interaksi sosial di masyarakat. Kebudayaan tidak serta merta hadir dan berdiri sendiri atau otonom. Tetapi, hal itu muncul manakala kebudayaan dikaitkan dengan berbagai macam disipllin ilmu yang menyertainya.
Teori kebudayaan dipandang sebagai suatu pencerahan bagi pemikiran yang masih memandang  dimensi manusia hanya terbatas pada apa yang ada di pikiran dan kegiatan mereka. Terdapat istilah budaya tingkat rendah maupun tinggi, yang mana jika diinterpretasikan adalah adanya tahapan evolusi budaya. Manusia melalui kemampuan intelektualnya terus-menerus berusaha agar kebudayaannya itu dapat mencapai tahap kesempurnaan maksimal sehingga dapat bermanfaat baginya secara maksimal pula.
Terjadinya globalisasi dan keterbukaan masyarakat kita terhadap dunia luar -- kebebasan perdagangan sudah mulai dirasakan pengaruhnya pada kehidupan daerah-daerah perkotaan dan ini merujuk pada kebudayaan realitas. Artinya adalah bahwa hal itu berhubungan dengan usaha mempertahankan hidup dan penggarapan lingkungan, dengan ekonomi dan teknologi.
Keragaman sejumlah teori kebudayaan, pada akhirnya dimudahkan dengan prinsip-prinsip dasar yang berasal dari Saussure, Peirce dan teori interpretasi teks. Inti dari masing-masing pemikiran mereka terletak pada gagasan-gagasan yang berpengaruh menentukan arah perkembangan bidang ilmiah tentang kebudayaan. Menelisik lebih jauh tentang kebudayaan akan menghasilkan kajian makna -- dimaksudkan untuk menemukan kebenaran. Kesemuanya tidak terlepas dari pola-pola perilaku yang diambil, dapat melalui teks (tulisan) ataupun lisan. Kajian tersebut melibatkan pengetahuan dan pemahaman yang akan berujung pada sebuah interpretasi. Dan perolehan pengetahuan tidaklah boleh dicampur dengan dan dipengaruhi oleh refleksi diri, karena akan mengakibatkan distorsi pengetahuan itu.


SUMBER : http://www.academia.edu/3266776/Teori_Kebudayaan_Menurut_E.K.M._Masinambow

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar