Seseorang yang mengalami kegagalan beribu-ribu kali adalah seseorang yang akan merasakan keberhasilan

hidup

Terkadang hidup memberi 100 alasan untuk menangis. Tetapi allah memberikan 1000 alasan untuk tersenyum.

Senin, 08 November 2010

CUACA EKSTREM BI: Pengaruhi Tingkat Inflasi Indonesia



Cuaca ekstrem menjadi ancaman tingginya tingkat inflasi tahun 2010. Karena cuaca ekstrem akan mempengaruhi ketersediaan kelompok bahan pokok.
Hal ini dikatakan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Hartadi A. Sarwono disela-sela acara Pelantikan dan Serah terima Jabatan Pemimpin Bank Indonesia Solo di Solo, Senin (17/10).
"Perekonomian Indonesia lebih kokoh selama tiga tahun terakhir ini, tetapi karena cuaca ekstrem seperti yang terjadi saat ini menjadi ancaman bagi inflasi tahun 2010," ujarnya.
Lebih lanjut Hartadi mengatakan, cuaca memengaruhi ketersediaan bahan pokok makanan terutama beras. Jika ketersediaan bahan pokok terganggu, hal tersebut memengaruhi harga bahan pokok di pasaran yang akan menyebabkan inflasi lebih tinggi.
"Jika ketersediaan bahan pokok hingga akhir tahun ini masih tersedia, maka tingkat inflasi kita akan aman. Kalau ketersediaan pangan terganggu, pemerintah harus membuka keran impor bahan pokok seperti beras," ungkapnya lagi.
Sebab krisis pangan akibat cuaca ekstrem tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di belahan dunia lainnya, sehingga negara-negara lain juga berlomba-lomba untuk impor beras. Jika impor tidak segera dilakukan, maka Indonesia akan bersaing dengan negara lain sehingga harga beras akan tinggi.
Tetapi rencana impor tersebut ternyata tidak direspon positif oleh pengusaha. Padahal impor beras tidak akan mempengaruhi pasar domestik, sebab beras yang diimpor haruslah beras kualitas tinggi. Karena, untuk beras kualitas sedang dan rendah masih bisa diperoleh di Indonesia.
Sementara itu disektor perbankan, Hartadi mengatakan untuk saat ini perbankan harus bisa mengurangi pembiayaan untuk sektor otomotif. Sebab, saat ini sektor otomotif tengah mengalami titik jenuh. Sehingga BI mendorong kepada perbankan untuk mengalihkan sektor lain seperti Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) atau potensi yang lebih menjanjikan.
"Sebab masing-masing daerah memiliki potensi yang berbeda-beda. Untuk UMKM, BI terus mendorong perbankan untuk memudahkan bagi sektor ini untuk mendapatkan kredit dengan mudah. Sebab lama ini masih banyak UMKM yang belum mendapatkan layanan kredit dari perbankan," paparnya.
Sementara itu Pemimpin Kantor Bank Indonesia (KBI) Solo kemarin, diserahterimakan dari Pemimpin KBI yang lama yakni Dewi Setyowati kepada Pemimpin KBI Solo yang baru, Doni P. Joewono yang sebelumnya menjabat sebagai peneliti ekonomi madya, ketua tim makro dan regional,
Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Jakarta. Sedangkan Dewi Setyowati selanjutnya akan menjabat sebagai Pemimpin Bank Indonesia Yogjakarta. (Endang Kusumastuti) 

                   Sumber : Suara karya

Pendapa saya  :  dilakukan dengan menaikkan tingkat bunga sehingga mengurangi keinginan badan-badan pemberi kredit untuk mengeluarkan pinjaman guna memenuhi permintaan pinjaman dari masyarakat. Akibatnya, jumlah kredit yang dikeluarkan oleh badan-badan kredit akan berkurang, yang pada akhirnya mengurangi tekanan inflasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar