Seseorang yang mengalami kegagalan beribu-ribu kali adalah seseorang yang akan merasakan keberhasilan

hidup

Terkadang hidup memberi 100 alasan untuk menangis. Tetapi allah memberikan 1000 alasan untuk tersenyum.

Senin, 08 November 2010

Pasar Tunggu Data Inflasi


TEMPO Interaktif, Jakarta - Naiknya bursa Shanghai dan Hong Kong karena membaiknya data manufaktur Cina berimbas pula ke bursa regional lainnya termasuk bursa Jakarta. Alhasil, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Indonesia disesi pembukaan sempat menguat hingga ke level 3.663.

Antisipasi terhadap keluarnya data inflasi membuat para investor bersikap hati – hati dalam perdagangan sesi pertama di awal pekan ini. Hal ini membuat indeks lokal hingga pukul 10:50 WIB turun tipis 3,55 poin (0,1 persen) menjadi 3.631.78 dari posisi akhir pekan lalu.

Indeks manufaktur Cina di bulan Oktober kemarin kembali naik menjadi 54,7 dibadning bulan sebelumnya 53,8, dan juga lebih tinggi dari perkiraan para analis sebesar 52,9 memberikan sentimen positif bagi bursa regional di awal pekan ini.

Pada akhir pekan kemarin indeks turun tipis 3,5 poin menjadi 3.635,32dari posisi sehari sebelumnya. Dan nilai tukar rupiah juga melemah tipis 1 poin menjadi 8.938 per dolar Amerika Serikat (AS).

Analis ekonomi dari PT Samuel Sekuritas Indonesia, Lana Soelinstianingsih mengemukakan meskipun harga minyak di pasar New York Jumat lalu turun dibawah US$ 82 per barel rupiah akan bergerak dalam kisaran tipis antara 8.925 hingga 8.935 per dolar AS.

“Sentimen dalam negeri terkait dengan data inflasi yang akan akan diumumkan hari ini oleh Badan Pusat Statistik bisa membuat rupiah akan cenderung menguat tipis,” kata Lana,” kata Lana.

Pasca hari puasa dan lebaran membuat tekanan harga jauh berkurang bahkan ada kemungkinan beberapa komponen pengeluaran turun (deflasi) terutama pada komponen sandang, pendidikan dan, kesehatan. “Untuk komponen bahan pangan kemungkinan masih ada kenaikan karena faktor musim yang belum stabil” tuturnya.

Proyeksi dari PT Samuel Sekuritas, laju inflasi bulan Oktober kemarin antara -0,14 hingga 0,13 persen, sedangkan untuk inflasi tahunannya akan mencapai 5,45 - 5,74 persen.

Sedangkan survei Bloomberg menunjukkan memperkirakan inflasi bulan Oktober lalu akan berada dalam rentang antara 0,12 hingga 0,5 persen, dengan mediannya 0,28 persen. Sedangkan untuk inflasi tahunannya (YoY) nya antara 4,81 – 6,2 persen, dengan mediannya 5,85 persen.

                                    Sumber : VIVA B. KUSNANDAR

Pendapat saya : perlu di lakukan penurunan nilai mata uang dalam negeri terhadap mata uang luar negeri. agar nilai mata uang dalam negeri tetap stabil.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar